Kau datang di waktu yang tepat
sangat tepat bahkan
Kau hadir membawa sayapmu yang bersinar
menemukanku yang terpuruk dalam pekatnya kegelapan
Kau mengulurkan tanganmu yang bersih kearahku
menatap mataku yang sudah terbiasa dengan kepedihan bahkan sejak kecil
tak berani ku sambut uluran tanganmu
terlalu kotor tanganku
terlalu kotor hati dan tubuhku
mungkin terlalu lama reaksiku
Kau menarik kembali tanganmu
seketika. Asaku yang mulai terkembang layu dan langsung mengering
ku takut kau segera kembali pergi membawa sinar yang menerangi sekelilingku
Tapi aku keliru...
Kau menarik tanganmu untuk kemudian kau masukkan kedalam keranjang indah yang menggantung di lengan tangan kirimu
kembali kau ulurkan tanganmu dengan segelas air jernih dalam genggamanmu
Tapi. terasa begitu sulit kugerakkan tangan kotorku untuk menerima pemberianmu
aku terus berusaha menggerakkan tanganku
apa mungkin tanganku sudah lupa cara bergerak karena sudah sekian lama tak ku gerakkan?
Terus aku berusaha
walau sakit yang kurasa bersamaan dengan usahaku
aku tak mau kau menarik kembali tanganmu dan pergi meninggalkanku berdua dengan gelap, bertiga dengan sepi dan berempat dengan penyesalan
Dan benar...
kau mulai menggerakkan badanmu
aku takut..
aku takut kau akan pergi
Tapi lagi-lagi aku salah dan keliru...
kau bergerak untuk lebih mendekatiku
kau bahkan membungkukkan badanmu
memenuhi hidungku dengan aroma ketenangan yang berasal dari kulit halusmu
kemudian kau meletakkan gelas indah beserta air jernih didalamnya
kau memang datang di waktu yang sangat tepat
kau menawarkan segelas air jernih tanpa mengeluarkan satu katapun
tepat siaat tenggorokanku terasa sangat terbakar
bahkan aku tak tau sejak kapan tepatnya liur dan ludahku mengering
Dan di luar itu semua...
ada yang lebih aku suka dan harus ku syukuri
yaitu...
Kau tetap ada dan menemaniku dengan segala kemegahan, sinar, wangi dan tatapan teduhmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar